Ditulis Oleh Kang Dana Penjual Buku

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

PENGUMUMAN PEMENANG EVENT “MOTIVASI”

Satu hal yang sangat menggembirakan saya saat menilai event ini adalah, banyak fiksi yang lebih dari seratus lima puluh kat. Notebook saya memperlihatkan tulisan itu sangat panjang. Jadi tak perlu repot lagi, tanpa harus cape membaca, meski mungkin kisahnya bagus, namun, langsung saya eliminasi. Sekalipun dalam pengumuman tidak saya cantumkan, siapa pun member grup ini seharusnya sudah tahu, maksimal seratus lima puluh kata itu aturan paten. Bukan sekali dua kali saya mengadakan event, dan selalu aturannya begitu. Itulah sebabnya saya merasa, tak perlu lagi aturan itu saya pasang dalam event ini, karena saya kira, Anda semua sudah tahu, kapan pun Anda menulis FIKSI di sini, baik dalam lomba atau memposting tulisan sehari-hari, SERATUS LIMA PULUH KATA ITU HARGA MATI.

Itu curhat pertama. Curhat berikutnya saya ingin minta maaf, mestinya sebagai panitia tunggal event, saya menjawab pertanyaan apapun yang datang. Akan tetapi tidak. Setelah deadline habis, baru saya periksa, ternyata banyak komentar dan pertanyaan ditujukan kepada saya, dan tidak mendapatkan jawaban. Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya bisa beralasan saya sibuk, dengan aktivitas harian yang banyak, mulai membuat kandang kambing, mengajar, mencuci, mandi, membaca buku, membersihkan kebun, dan banyak lagi hal lain. Namun saya kira itu alasan basi, jujurnya sebenarnya bukan itu, akan tetapi, lebih karenana kelalaian dan kemalasan. Bukan sibuk, sayanya saja tidak menyempatkan. Karena ternyata, posting dan saling komen di grup curcol.com saya masih sempat.

Dan malas luar biasa saya rasakan saat tiba waktunya penilaian lomba. Karena itu berarti, saya harus membaca tulisan menumpuk, membacanya dengan telaten satu persatu, kemudian memilih tiga sebagai juara pertama, kedua dan ketiga. Karena itulah proses penilaian tidak saya jalani sambil onlen. Postingan lomba saya save ke notebook, supaya saya bisa membacanya kapan saja: di kelas, di rumah, di kamar, di ruang tamu, di mana saja sempatnya. Padahal kiriman karya buat lomba ini terbilang sedikit, namun ampun luar biasa telatnya, penilaian baru bisa saya selesaikan tiga hari setelah deadline habis. Tepatnya pagi hari Kamis, baru fiksi selesai saya baca.

Dan ini hasil penilaian saya:

Pertama saya tertarik kepada fiksi karya Sifa Aliefah.


Fiksi # Merunduk Syahdu #

Pukul 03.00 dini hari. Kang Sahrul dan beberapa santri senior lainnya, sudah sibuk di dapur. Memasak nasi dan memotong sayuran untuk sarapan santri lainnya.

Selesai sholat subuh, dilanjutkan memasak sayur dan menggoreng lauknya, tempe. Menu yang sederhana.

Jangan berpikir setelah itu bisa bersantai. Masih harus ke pasar, membeli sayuran dan keperluan dapur lainnya. Kadang Kang Sahrul harus mengatar Pak Kyai mengisi ceramah di desa tetangga atau luar kota. Semua dilakukannya dengan ikhlas. Tapi teman-temannya kadang merasa kasihan.

“Sampean hampir tidak punya waktu untuk mengaji. Sudah tertinggal banyak.” Ujar salah satu temannya.

“Saya ngajinya langsung di lapangan sama Pak Kyai. Meski saya tidak pintar membaca kitab kuning, Qur’an juga biasa saja. Saya senang ketika Pak Kyai meminta saya mengantar beliau ceramah. Lumayan sekalian mengaji. Insyallah tidak kekurangan ilmu.”

Kerapihan tulisan lumayan, dan isi kisahnya, menceritakan seorang santri yang meski terbebani kesibukan, hingga kesempatan belajarnya terganggu, akan tetapi, dia tidak merasa malang. Mencari ilmu tetap dilakukannya dengan cara, menimbah ilmu Pak Kiai setiap kesempatan mengantar ceramah. Cocok dengan latar belakang sebagai santri, Sifa Aliefah memang mumpuni menulis fiksi model ini. Itulah sebabnya berbagai tulisannya tentang kisah di pesantren, cukup asyik buat diikuti. Akan tetapi satu ganjalan saya rasakan saat mencoba melihat kesesuaian judul dan isinya. Mungkin dengan memikirkannya lebih dalam, bisa saja itu sangat nyambung. Akan tetapi sebagai orang bodoh dan cenderung berpikir dangkal, saya merasa judulnya kurang pas. Jadi fiksi ini saya tetapkan sebagai juara ketiga.

Berikutnya saya membaca Fiksi karya Willy Sugiarto

Fiksi # CANTIK ITU RAHASIA #

Sekalipun kecoak, akan tetap dibilang cantik, oleh ibunya. Begitu juga dengan aku. Jikapun sampai kini masih jomblo, asyikin aja! Tidak ada yang salah. Justru kadang yang bikin masalah, para tetangga dan teman. Seperti kemarin, saat sedang menyapu halaman, Nia teman sepermainan, yang sudah mengalami dua kali menjanda, lewat depan rumah.

“Apa kabar, Jomblo?” seloroh Nia.
“Baik …, Janda!” balasku sambil tertawa.
“Yeee, biar janda tapi cantikkan?” balas Nia keki.
“Cantik itu rahasia,” ucapku.
“Maksudnya?” kejar Nia.
“Tidak hanya cantik luarnya saja, tapi dalamnya juga harus,” terangku.
“Halah! Buktinya kamu tetap saja masih jomblo,” protes Nia.
“Itu karena kecantikanku bukan kelas coro, hahaha ….”

Nia pun ikut tertawa, entah apa yang ada di pikiran sahabatku itu, kemudian berlalu menuju sebuah salon kecantikan langganannya.

Kepada fiksi di atas, saya suka gaya bahasanya. Suka dengan kerapihan tulisannya. Suka sikap kurang ajaran tulisannya. Saya suka dengan gayanya yang alamiah, cerdas dialognya dan tidak dipaksakan. Dan yang paling saya suka, di balik kekurangajaran itu, terselip motivasi tentang ketegaran menghadapi cacian. Motivasi yang tidak menggurui. Tak seindah yang dibayangkan, kenyataan sehari-hari banyak memberikan kenyataan menyakitkan. Banyak orang yang ucapan-ucapannya tak seperti yang kita inginkan: menyakitkan dan tidak berperasaan. Dan kisah ini memberi pelajaran, hinaan orang tak perlu membuat kita larut dalam kesedihan. Balas sih balas, tapi tertawalah, dan tak perlu diambil pusing. Otak bodoh saya berkata, ini motivasi bagus. Itulah sebabnya, fiksi ini saya tetapkan sebagai juara pertama.
Ketiga fiksi datang dari SITI CAH BOEMENT.


Fiksi # Tantangan terbesar #

Orang-orang berlalu lalang tiada hentinya. Aku pun jengkel.

“Kalau begini, lebih baik aku berhenti saja. Capek!” keluhku pada Anto. Kerja menjadi OB ternyata sangat melelahkan.

“Mana ada kerja yang gak capek, Don?” jawabnya sembari mengepel lantai koridor Rumah Sakit, “Tidur aja capek!” lanjutnya.

Bukannya membantu Anto, aku malah duduk. Menyesali pilihanku mau bekerja di sini.
Sedangkan kawanku terus saja mengepel, sesekali terdengar ia bersenandung, tanpa peduli pada orang-orang di sekitarnya.

“Ayolah, Kawan. Jangan suka mengeluh. Apalagi bermalas-malasan. Kita syukuri saja apa yang ada.”

Huf. Dengan ogah-ogahan aku menghampirinya, lalu membantu Anto mengepel.

“Kamu tahu gak? Tantangan terbesar bukan saat kita menghadapi kesulitan tapi saat kita melawan kemalasan dan keluhan diri kita sendiri,” bisiknya.

SEDERHANA. Ya benar kisah di atas sangat sederhana. Adegannya sederhana. Latarnya sederhana. Namun seringkali yang sederhana itu tidak sederhana. Begitulah kisah di atas. Menceritakan seorang Doni, yang kerja menjadi OB, dan merasa itu bukan tempatnya. Dan banyak nian orang yang merasakan demikian, yaitu saat merasa apa yang sekarang ditempatinya bukanlah tempatnya. Banyak orang mengeluhkan tempatnya bekerja, dan merasa seharusnya dia bukan kerja di sana. Namun Anto temannya memberi nasihat hebat. Kisah ini cukup berkesan, buat siapa saja, yang merasakan jenuh, lelah dan bosan dalam kerjanya, untuk selalu memandang, bahwa semua itu “Tantangan Terbesar”. Sip, sangat cocok dengan event ini: “Motivasi”. Karenanya, fiksi ini saya vonis sebagai juara pertama.

Selamat kepada pemenang. Segera kirimkan alamat lengkap Anda bersama nomor hape ke inboks facebook saya.

Kepada sponsor perlombaan ini, Mbak Ida Mawarti, kami segenap penghuni FBI mengucapkan terima kasih. Semoga amal baiknya menjadi berkah buat Mbak dan keluarga.

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s