Ditulis Oleh Ratna Ning

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

Fiksi # Barang Antik #

 Laki-laki setengah baya itu selalu membawa dan memamerkan golok yang selalu disandangnya di pinggang, pada semua orang. 
"Iniii golok bukan sembarang golok. Golok ini sangat bersejarah. Banyak berjasa dalam hidup Abah.." katanya pada setiap orang.

“Golok hitam, jelek, tumpul, buntung pula setengahnya Bah, buat apa dipiara. Mending buang, beli yang baru!” kata orang-orang yang selalu dipameri golok antik si Abah.
Abah tersenyum. Kecut. Ada air yang menggenang di kelopak kerontang mata tuanya.
Di tivi ia melihat Sari, keponakannya, tengah mesra menggandeng pamannya yang seorang Direktur. Sari yang selalu bangga mengenalkan pada media tentang pamannya itu.
“Sudahlah Bah, jangan disesali apa yang sudah Abah berikan pada Sari. Meski ia dulu pernah menyusahkan kita, tapi kini ia sudah berjaya. Ia berhak memilih pada siapa ia akan memberikan rasa bangga. Bagi dia, Abah ini hanyalah barang antik yang hanya perlu diam di musium. Dan si Kodir adik abah itu barang mutakhir yang luks dan bergengsi yang pantas ia pamerkan untuk menaikkan pamornya. Terima sajalah Abah, sudah hukum alam!” si ambu seringkali menasehati.
Abah meraba golok tuanya. Itulah, kenapa aku terus memeliharamu, Gobang! Karena aku orang yang menghargai sejarah. Lirih hati Abah.

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s