Ditulis Oleh Hana Chan

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

#Cermin #Hujan, SPG Laris!

Setelah panas panjang, akhirnya hujan mampu mendinginkan tiap pori tanah Jogja ini. Abang tukang bakso terlihat pulang lebih awal dari biasanya. Dingin ini sungguh menusuk pori. Tak terkecuali empat sekawan gendheng. Kehangatan sungguh diburu sekarang.

“Aku lapar. Makan yuuk!” Ungkap Tere memegangi perut.

“Pas! Aku pengen makan SPG!” Andi memberi rekomendasi, tetap dengan wajah datarnya.

“Heh?” Ardi dan Dion melotot, terkaget. Punggung mereka sampai meninggalkan singgasananya.

“SPG? Kau yakin? Yang di depan kos itu?” Alis Dion mengkerut penuh tanda tanya. ‘Cari mati dia!’ batinnya.

“Yakin. Lagian kan kita lagi ngirit juga. Tiga menit sampai. Gimana Di, Co kalian ikut?” Andi bertanya seolah mengacuhkan ekspresi teman-temannya yang telah berubah ke titik minus lima derajat celcius.

“Memang ada yang murah?” Tanyanya berhati-hati. Matanya melirik Tere. Masih terlihat jelas ekspresi kaget dan marahnya bercampur. Horror.

“Ya, standar lah.” Jawabnya semulus jalan tol cikampek.

“Aku mau pulang!” Tere bangkit, kakinya gusar melangkah. Baru lima langkah, tangannya serasa dipegang erat.

Ardi dan Dion saling melempar pandang. Hati mereka berseru ‘Mati kau Ndi!’.

“Ikutlah, kumohon!” Andi berucap memohon pada Coconya.

“Tidak akan! Pergilah!” Tere masih membuang muka.

Andi nekad menyeretnya. Tere memberontak, tapi sia-sia saja. Kekuatannya tak seberapa. Ardi dan Dion mengekor di belakang mereka. ‘Perang dunia ke-3 akan pecah!’ batin mereka berdua.


“Kita sampai!” Andi merenggangkan genggaman tangannya. Tere tetap hikmat menunduk. Sesenggukan terdengar samar keluar dari bibir merah cherry Coconya.

“Kau jahat! Aku mau pulang!” Suara Tere terdengar lirih.

“Kau bilang kau lapar? Kita makan dulu, heem?” Andi berhati-hati membujuknya.

“Iya, tapi bukan di tempat ini!” Teriak Tere tiba-tiba. Matanya sembab. Tak pernah Andi melihat gadis pujaannya itu menangis sedemikian rupa. Ia mendekap tubuh gigil di hadapannya. Tere memberontak, tapi tetap tak kuasa melawan dekapan tangan sang kekasih.

Ardi dan Dion tampak mendekat. Nafas mereka memburu.

“ Kalian berjalan seperti vampire!” Kata-kata Dion akhirnya berhasil keluar di tengah nafasnya yang memburu.

“Kau lihat dulu tempatnya.” Andi berkata perlahan.

Tere menggeleng dalam dekapan Andi.

“Jadi ini yang kau maksud SPG?” Ardi berkata terbata. Syarat tanda tanya.

“Hemm.” Andi mengangguk membenarkan.

“Warung Sueger Puanas Gembrobyos?” Ardi mengeja kata yang tertera di papan depan bangunan ramai itu.

Seketika Tere melepaskan dekapan Andi dan melihat ke arah tujuan mata Ardi. Tangannya mengepal, tubuh Andi seperti daging yang harus dia kuliti sebelum berada di atas wajan.

“Ahahhahhaha!” Dion dan Ardi tertawa terbahak. Jika tak segera berhenti, mungkin ar mata mereka akan keluar. Andi memasang seringaian andalannya.

“Awas kau!!” Tere berteriak mengejar Andi.

Disaat dingin, ia adalah penghangat yang sempurna. Begitupun teman.

#Fin

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s