Ditulis Oleh Bune Upik

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

Fiksi # Pahlawan yang Terlupakan #

Di tengah hiruk pikuk upacara Hari Pahlawan, seorang lelaki tanpa kaki bersandar pada ujung pagar. Hatinya basah, hingga butiran embun bergayut dalam kelopak matanya.
“Ini upacara memperingati siapa? Rekan-rekanku yang namanya terukir pada nisan di Taman Makam Pahlawan? Mereka yang berdasi dan ongkang kaki serta mengaku telah lelah membangun negeri ini? Mereka yang kenyang mengeruk kekayaan negeriku dan minum keringat bangsanya sendiri? Lalu pantaskah aku disebut pahlawan hanya karena telah kehilangan kedua kakiku ketika aku bersama pasukanku menyelamatkan Bendera Pusaka? Ah, aku tak ingin menuntut banyak. Biarlah mereka menganggapku peminta-minta, melihat negeri ini merdeka, melihat saudara-saudaraku sebangsa bisa makan dengan tenang tanpa dikejar peluru, sudah sangat luar biasa bagiku.”
Lantas ia melirik bocah mungil yang termangu di sampingnya, yang matanya tak lepas dari iring-iringan bocah sebayanya.
“Maafkan kakek, Cucuku. Harusnya kaupun merdeka seperti mereka….”

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s