Ditulis Oleh Luth Luthf

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

Fiksi # Arena Terakhir #

”Akhirnya kutemukan juga kau.”

Pemuda yang berdiri di sana, memiliki wujud yang sama sepertiku. Dia dalang dari semua ketidaknyamanan ini.

“Begitu, ya? Dari cara bicaramu aku sudah tahu seberapa besar kebencianmu padaku.” Sosoknya yang berbalik dan berjalan perlahan, melahirkan sesaat bayangan pantulan di dinding cermin. Banyak sekali. Tempat apa ini? Setahuku bukan wahana rumah cermin.

“Kuburan menantimu.”

Aku sangat kesal. Bertahun-tahun tubuhku dikendalikan olehnya. Kesemua perbuatan yang tersirat di masa lalu. Itu semua ulahnya. Bukan aku.

“Kau yakin ingin membunuhku?”

Pertanyaan itu terdengar sangat yakin.

“Percuma saja kau membunuhku. Semua hal buruk dalam dirimu tak akan musnah. Lagipula membunuh itu kan juga …,”

“Berisik!” Potongku. Walau sepertinya dia benar. Membunuh hanya akan memperpanjang.

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s