Ditulis Oleh Wahyu Rusnanto Ramadhan’Putra

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

Fiksi Fantasi – Cerbung Bab 1

CERBUNG – BAB 1

Matanya mengerjap-ngerjap, menangkap cahaya. Jari-jari lelaki itu bergerak. Sepertinya sensor motorik di otaknya telah berfungsi dengan baik. Kini kelopak matanya benar-benar terbuka. Ia tersentak dan terkejut. Ketika mendapati dirinya terbaring pada sebuah tabung kaca. Sejenak ia tak melakukan apapun. Hanya mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi sebelumnya.

Pandangan lelaki itu menatap lurus ke depan. Seketika layar demi layar ingatan kembali berkelebat di matanya. Seperti pemutaran sebuah film. Namun film yang terputus-putus. Yang di ingatnya hanyalah lengan bertato bergambar bulatan bumi yang dikelilingi dua ular melingkar. Lengan itu menempelkan semacam tisu berbau aneh ke mulutnya.

Kesadarannya kembali. Ia memberontak, kaki dan tangannya meronta-ronta. Memukul-mukul tabung kaca yang mengurungnya. Tapi, tabung kaca itu sangat keras. Seluruh tubuhnya sakit akibat percobaan mengeluarkan diri yang sia-sia. Selama beberapa menit ia mencoba keluar dari tabung itu. Dadanya mulai sesak, akibat kelelahan. Pun mungkin udara mulai menipis. Lelaki itu mulai kehilangan akal sehatnya, ia terus-menerus mencoba memecahkan kaca. Hingga tenaganya terkuras habis.

Ketika ia telah benar-benar kelelahan, dan tak mampu lagi memukul, atau bahkan menyentuh kaca itu. Tabung yang mengurungnya terbuka, bersamaan bunyi dentuman yang cukup keras. Lelaki itu menggulingkan tubuhnya ke samping. Dan terjatuh. Beberapa saat ia hanya bisa berbaring. Tenaganya telah habis terkuras.

Setelah berhasil mengumpulkan sedikit tenaga. Ia mencoba berdiri. Matanya terbelalak, ketika melihat ke sekeliling ruangan yang ternyata sangat luas. Dan terdapat ratusan tabung yang sama seperti yang mengurungnya. Ini menjelaskan bahwa bukan hanya dirinya yang dikurung di tabung sialan itu. Tapi, semua tabung itu telah terbuka. Dan hanya tinggal ia sendiri yang tersisa. Apakah ia sengaja ditinggalkan? Atau ia mungkin saja tertinggal.

Kepalanya menoleh ke arah tabung yang tadi mengurungnya. Ada yang aneh dengan tabung tersebut. Terdapat beberapa benda yang sama sekali tak dikenalnya. Di kolong tabung tersebut ada sekitar lima selang yang menyambung dari dalam tanah, dan menempel pada bagian bawah tabung. Tabung itu seperti alat penunjang kehidupan. Sementara hanya itu yang bisa ditangkap oleh logikanya.

Lalu, di bagian depan tabung tersebut terdapat rentetan angka-angka dan sebuah tulisan.

100295 – Kido

Lelaki itu tersentak. Ia baru tersadar, bahwa ia memiliki nama. Dan Kido adalah namanya. Tapi, ia tak mengerti apa arti dari rentetan angka di samping namanya itu. Apakah sebuah sandi? Password? Atau mungkin sebutan dirinya dalam bentuk angka-angka.

Kido menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak mau memikirkan hal yang tak penting seperti itu. Kido melihat ke sekeliling, berharap menemukan pintu atau semacamnya. Dan ia menemukannya. Sebuah pintu besi berwarna perak di salah satu sudut ruangan. Tanpa berpikir panjang Kido berlari. Langkahnya terpogoh-pogoh. Kido menatap fokus pintu tersebut.

Tanpa mengurangi kecepatannya. Kido meraih gagang pintu dan menariknya. Pintu besi itu berdecit nyaring. Keluar dari ruangan tersebut, kini ia berada di sebuah lorong. kakinya terhenti, karena lorong itu bercabang dua. Ia harus memilih antara kiri dan kanan. Instingnya mengatakan bahwa ia harus berlari ke arah kanan. Tapi, Kido menggeleng, ia tahu instingnya tak pernah berkata benar. Masa lalunya mengingatkan, betapa buruk insting yang dimilikinya.

Akhirnya menghadap ke sebelah kiri, dan berlari. Berlari sekencang mungkin. Ia harus keluar dari tempat ini. Siapapun yang mengurungnya di sani, pasti mempunyai niat tak baik. Lorong itu panjang dan berkelok-kelok. Selama beberapa menit, Kido tak menemukan cabang lorong lain, ataupun tanda-tanda bahwa lorong ini akan berakhir.

Sesosok bayangan tertangkap kelopak matanya. Sepertinya bayangan manusia. Bayangan itu sedang berdiri mematung. Kido berlari menambah kecepatannya. Ia sangat bahagia, mengetahui bahwa ada manusia lain yang terjebak di lorong ini.

“Halo,” teriak Kido.

Bayangan itu menoleh. Kido berlari lebih kencang. Semakin dekat ia dengan bayangan itu. Ia juga semakin tahu bahwa ternyata bayangan itu adalah seorang laki-laki. Laki-laki itu tinggi dan putih. Tak seperti kulitnya yang agak kecoklatan. Terlihat senyuman yang sangat manis dari wajah lelaki itu. Sepertinya ia juga sangat bergembira bertemu dengan Kido.

“kupikir, hanya aku yang terjebak di tempat ini,” kata lelaki itu, wajahnya tampak menunjukkan kelegaan saat menatap Kido.

“Yah, kupikir tadinya juga begitu,” balas Kido. “Baiklah, sedang apa kau berdiri mematung di sini?” tanya Kido.

“Aku terbangun dalam sebuah tabung kaca, lalu aku mencoba keluar dari tempat ini. Sampai saat aku menemukan jalan yang terbagi menjadi empat ini. Aku bingung harus mengambil arah yang mana,” tutur lelaki itu.

Kido segera menyadari bahwa ternyata lorong itu bercabang empat. Ke kiri, kanan, dan lurus. Matanya melihat ke semua lorong. dan yang dilihatnya sama, yaitu ke-empatnya sama-sama tak berujung.

“Instingku mengatakan bahwa kita harus berlari terus ke depan, atau ke arah kiri,” kata Kido.

“Baiklah, tunggu apa lagi?” kata lelaki itu, lalu ia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tapi tangan Kido menahannya.

“Instingku selalu menyesatkan, kawan,” tutur Kido, sambil mengambil langkah dan segera berlari ke kanan. Tanpa diperintah, lelaki itu mengikuti di belakang. Mencoba menyesuaikan langkahnya dengan pria yang baru dikenalnya.

Tanpa ada percakapan apapun, kedua lelaki itu berlomba-lomba mempercepat langkahnya. Sepertinya warna putih yang mendominasi lorong-lorong yang sedari tadi dilaluinya. Membisukan mulut mereka.

“ke arah sini,” teriak Kido, ketika mereka menemukan cabang lagi. Ia mengambil jalan dengan menentang semua perkataan insting di dalam otaknya.

“Diaz,” kata lelaki itu, mukanya penuh senyum walau sedang berlari terengah-engah.

“Kido,” jawab Kido. Ia mencoba tersenyum walau dipaksakan. Yang dipikirkannya saat ini adalah menemukan jalan keluar dari tempat ini.

Diaz berlari mendahului Kido. Sejenak Kido memperhatikannya. Kulitnya yang putih dan wajahnya yang tampan, membuat ia iri. Semua wanita pasti akan berteriak jika melihatnya. Kido berpikir, mungkin ia bukan orang Asia seperti dirinya.

“Kido, lihat! Pintu!” teriak Diaz, sambil melihat ke arah Kido.

Kido mengerti, ia menambah kecepatannya. Pintu itu memberikannya tenaga baru. Seolah-olah dibalik pintu ada sebuah makanan yang sangat berlimpah. Oh, ya, Kido sangat lapar. Jika bukan jalan keluar, ia berharap di balik pintu itu ada makanan. “Ayo, Diaz!”

Diaz terseyum lebar. Semangatnya terpompa.

Mereka berhenti di depan pintu. Napas mereka tersenggal-senggal. Sambil memegang lutut, keduanya beristirahat sejenak. Melepas lelah. Lalu, Diaz mencengkeram gagang pintu itu. Pintunya sama seperti pintu besi yang dilihat Kido pertama kali. Bunyi krek diikuti dengan decitan pintu, memecah kesunyian. Pintu perlahan terbuka, sebersit cahaya menyilaukan keduanya.

Kido dan Diaz terkejut, ketika melihat apa yang ada di balik pintu. Mata mereka terbelalak. Setelah berlari selama berjam-jam. Kini mereka menelan pahitnya kecewa.

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s