Ditulis Oleh Ria Ashri Farrija

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

Fiksi # Berhenti Berharap #

Ingin kujumpai lagi sosok taat agama, ramah, dan dewasa tersebut. Setiap kali memikirkannya, semburat merah diwajahku kembali terpampang. Aku jadi senyum-senyum, malu sendiri jika mengingatnya. Dan sekarang, aku akan menemuinya di balai desa. Yuhuu!!

Tapi sepertinya, aku tak usah berharap terlalu banyak. Mana mungkin anak kepala desa mau menyapa anak petani? Ah, betul. Memang betul. Apalagi aku ini jelek, wajahku juga hitam macam arang. Bodoh pula. Tidak seperti ia, putih dan bersih. Juga cerdas. Tak cocok rasanya jika disandingkan denganku.

Memikirkan semua perihal itu, semangatku tiba-tiba kabur. Ragaku berjalan, namun jiwaku terkulai. Ah, iya. Iya. Aku harusnya berhenti berharap.

Kususuri langkahku menuju balai desa. Berat rasanya hati ini dijinjing.

Seseorang tiba-tiba menegurku,

”Mbak, mbak anak Pak Parjo?”
”I…iya, Mas. Ada apa?”
”Oh, begini ya. Jadi ada proyek pertanian di universitas saya. Dan kebetulan Bapak Mbak sendiri adalah petani yang mempunyai kualitas tinggi. Bisa, kan, saya meminta bantuan Bapak Mbak, lewat Mbak gitu?”

Sial. Tuhan malah menunjukan arah untuk dekat padanya, ketika aku berhenti berharap.

Apa artinya aku harus memulai berharap lagi?

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s