Ditulis Oleh Eka Bustomi

Lewat
Fiksimini Bahasa Indonesia

mawar ungu

Fiksi # Puisi Kakek Tua #

“Cu, ambilkan Pen dan buku,
Kakek punya inspirasi yang sudah lama namun belum tertuang”
Ucapku.

Thohir pun datang,
dia menulis apa-apa yang aku katakan,
dan ini hasilnya:

PUISI KAKEK TUA

31 MEI 2084

Renta mewujud
sisa kelapukan disantap
waktu me-Rayap

Kelopak mata bergelayut
mewadahi bola mata
yang kian Rabun
bersyaraf lapuk

pandanganku meraba siapa
yang menyapa

90 Tahun
Usia yang tak bisa
lagi dipaksa
menapak langkah
demi langkah
tanah-tanah

Siapa sudi memapah?
Kuingin
menatap langit merah
sebelum aku
menyatu dengan tanah


Hidup ini
akan sampai di mana
Tubuh merasai tua,
atau dicekal mati
sebelum sampai ke sana

Lalu
apa yang membuat
nafsu yang menghukum
taat-taat yang terlelap?

Kapan hendak dimulai?
Kapan ‘kan disiapkan?

Tak ‘kah kau sadari,
Nafas-nafasmu
t’lah sampai di seperempat
per-abad-an


Kini
ku ‘tak lagi
mampu bermain
dengan “belem cau”

kini
sadar ku terjaga
menerka di mana
lepasnya nyawa.

Rabu31052084
(10:07)

“Bakal Mati”


Cucuku menitikkan air mata.

Iklan

tulis

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s